Shaker Alat Laboratorium – Jenis, Cara Penggunaan dan Bagian Shaker

Shaker Alat Laboratorium - Jenis, Cara Penggunaan dan Bagian Shaker

Shaker alat laboratorium memiliki harga jual bervariasi berdasarkan spesifikasi shaker laboratorium itu sendiri. Semakin banyak fitur semakin mahal harganya. Umumnya, makin banyak bagian-bagian yang perlu pengaturan maka cara penggunaan shaker tersebut semakin memerlukan keahlian. Bahkan, tak jarang, seorang analis laboratorium dituntut untuk mengenali bagian-bagian penting shaker sehingga dapat menggunakannya secara benar. Yuk kita simak ulasan alatalatlab.com.

Kegunaan Shaker Laboratorium bagi Seorang Laboran dan Peneliti

Jika Anda bekerja sebagai analis di laboratorium, maka tentunya Anda tidak asing lagi dengan alat laboratorium yang bernama shaker. Alat laboratorium yang satu ini banyak digunakan untuk aplikasi di berbagai jenis laboratorium, baik di kimia maupun biologi. Alat ini berfungsi untuk mengaduk/ meng-agitasi cairan sehingga seluruh bagian campuran menjadi homogen (merata). Sebelum membuat larutan tentu menggunakan timbangan analitik saat menimbang bahan kimia yang akan direaksikan.

Shaker Alat Laboratorium - Jenis, Cara Penggunaan dan Bagian Shaker
Ilustrasi Gambar Shaker Laboratorium

Cara Penggunaan Shaker Alat Laboratorium

Cara penggunaan shaker laboratorium cukup mudah. Sampel yang berwujud cairan ditempatkan dalam wadah tertentu seperti gelas piala, erlemeyer, labu kocok, tabung reaksi ataupun alat gelas lainnya. Selanjutnya, sampel dalam wadah akan diaduk (digoyang) secara orbital atau secara linear.

Cara kerja shaker orbital sedikit berbeda dengan cara kerja shaker linear atau linier. Perbedaannya hanyalah pada arah pengadukan. Pada shaker orbital, wadah digoyang (diaduk) dalam bentuk memutar seperti putaran jarum jam, sedangkan pada shaker linear, shaker digoyang maju mundur seperti arah setrika baju. Baca juga rotary evaporator yang digunakan untuk memurnikan suatu zat.

Bagian-bagian Shaker Alat Laboratorium

Shaker alat laboratorium (linear dan orbital) yang banyak tersedia  dipasaran memiliki kapasitas beban maksimum 7,5 kg (total sampel dan wadah). Untuk itu, penting bagi peneliti untuk menghitung jumlah sampel yang akan diproses/diteliti menggunakan shaker. Dalam dokumen patent yang diterbitkan oleh US Patent dengan nomor US8393781 disebutkan bagian-bagian Incubating orbital shaker. Jumlah bagian-bagian shaker tersebut lebih dari 100 item yang ditampilkan dalam 10 gambar berbeda. Berikut adalah snapshot gambar dari paten tersebut. Untuk lebih lengkapnya silakan lihat dokumen paten ini.

bagian bagian incubating orbital shaker

Gambar bagian-bagian shaker (incubator shaker, sumber US Patent No US8393781)

Untuk bekerja dalam kondisi tertentu sesuai dengan keinginan peneliti, shaker alat laboratorium dilengkapi dengan pengaturan kecepatan pengadukan dan lama waktu pengadukan. Kecepatan pengadukan (getaran/pengocokan) dalam satuan rpm berkisar antara 10 rpm hingga 500 rpm. Semakin tinggi angka rpm, maka semakin cepat pengadukan. Dengan adanya fitur shaker ini, pengguna dapat memilih atau mengatur kecepatan yang lebih spesifik (sesuai variabel penelitian), baik untuk aplikasi dengan kecepatan pendagukan tinggi, sedang maupun rendah. Sebagai contohnya adalah pada saat melakukan kultivasi sel (membuat kultur sel), maka diperlukan kecepatan aduk yang relatif tinggi.

Selain fitur pengatur kecepatan, shaker laboratorium juga dilengkapi dengan timer. Fungsi timer pada shaker adalah untuk mengatur waktu (lama) pengadukan. Hal ini memungkinkan pengguna untuk melakukan otomatisasi penelitian dan tidak harus menunggu shaker bekerja. Baca juga artikel tentang tanur (furnace) laboratorium.

MACAM MACAM DAN JENIS SHAKER ALAT LABORATORIUM

Shaker Orbital/Linear

Shaker orbital memiliki gerakan pengadukan dengan arah melingkar. Shaker linear melakukan pengadukan dengan arah kiri-kanan (maju-mundur). Kecepatan shaker orbital dan linear termasuk lambat (25-500 rpm). Shaker ini sering digunakan pada analisa  mikroba, biomolekuler, dan pencampuran umum. Adapun ciri utama dari shaker ini adalah getaran relatif yang dihasilkan sangat kecil, panas  yang timbul dari proses pengocokan juga rendah dibandingkan dengan jenis shaker lainnya. Kondisi seperti ini sangat ideal untuk menumbuhkan (kultivasi) mikroba. Berikut ini adalah contoh gambar shaker linear merk Scilogex.

linear shaker merk scilogex tipe SK L330

Gambar linear shaker merk scilogex tipe SK L330

Vortex Shaker (Vorteks)

Vortex shaker atau yang biasa disebut dengan istilah vorteks merupakan alat  yang digunakan untuk mengocok atau mencampur zat cair dalam sebuah botol atau tabung tertentu. Shaker jenis ini pertama kali diciptakan Jack A. Kraft dan Harold D. Kraft pada tahun 1962 (Wikipedia). Cara menggunakan shaker vortex adalah dengan meletakkan botol/tabung di platform tempat putaran shaker dan menyalakannya. Alat akan bergetar dan mengaduk cairan sehingga campuran menjadi rata. Sama seperti  shaker lainya, Vortex  shaker  juga dilengkapi dengan pengaturan kecepatan dalam satuan rpm. Silakan lihat ilustrasi gambar vortex shaker berikut ini.

vortex shaker merk scilogex

Gambar Vorteks (vortex shaker)

Shaker Inkubator (Incubator Shaker)

Shaker inkubator (incubator shaker) adalah alat laboratorium yang memiliki fungsi ganda. Alat ini adalah gabungan dari shaker yang berfungsi untuk pengadukan dan incubator untuk pengembangbiakkan (kultivasi) mikroorganisme seperti bakteri. Shaker inkubator disebut juga dengan shaker termal. Shaker termal dapat  melakukan pengadukan dengan tetap mempertahankan suhu optimal. Suhu optimal diperlukan untuk pertumbuhan mikroba yang terbaik. Peralatan shaker incubator sangat membantu peneliti saat melakukan pembiakan sel dengan pengaturan suhu dan oksigen yang stabil. Berikut kami tampilan contoh gambar shaker inkubator merk Daihan Labtech. Baca juga artikel kami tentang mikropipet.

shaker inkubator merk daihan labtech

Gambar shaker inkubator

Platform Shaker

Platform shaker umumnya ditempatkan di atas tempat yang datar secara horizontal. Cairan ditempatkan pada wadah tertentu seperti beaker glass (gelas piala), erlemeyer, dan alat gelas lainnya. Berikut adalah contoh gambar platform shaker dengan arah gerakan linear merk Scilogex.

platform shaker linear analog merk scilogex tipe SK L180

Gambar platform shaker

Itulah penjelasan sekilas mengenai pengertian shaker, cara menggunakan shaker dan jenis-jenis shaker di laboratorium. Jika anda ingin melengkapi peralatan laboratorium anda, silakan menghubungi kami, alatalatlab.com. Nomor kontak dapat anda lihat pada beranda website ini atau laman kontak. Semoga bermanfaat.

Shaker Alat Laboratorium – Jenis, Cara Penggunaan dan Bagian Shaker
5 (100%) 5 votes

Jenis Jenis Oven Laboratorium

Jenis jenis oven laboratorium di pasaran sangat banyak. Sebelum membeli oven laboratorium, sebaiknya anda mengenali terlebih dahulu jenis jenis oven laboratorium. Oven ada yang digunakan dengan tujuan umum maupun tujuan tertentu yang lebih spesifik. Setiap alat laboratorium seperti oven dilengkapi dengan fitur yang dapat memenuhi kebanyakan kebutuhan pembeli. Oleh karena itu, jika ada institusi yang menginginkan fitur diluar spesifikasi peralatan umum, maka dia perlu membayar biaya ekstra atas fitur tambahan tersebut. Dalam artikel ini alatalatlab.com akan menjelaskan jenis jenis oven laboratorium.

Jenis Jenis Oven Laboratorium

Gambar jenis-jeni oven di laboratorium

Jenis Jenis Oven Laboratorium Berdasarkan Kesesuaian Penggunaannya

Berdasarkan fitur yang ada pada oven, ada beberapa jenis oven yakni:

High-temperature, vacuum, gravity atau mechanical convection oven

Jenis oven ini banyak digunakan di klinik dan laboratorium farmasi.

Forced-air, multi-purpose oven

Jeni oven yang satu ini banyak digunakan di laboratorium dengan tujuan untuk mengeringkan peralatan gelas

Vacuum oven

Jenis oven ini cocok digunakan untuk bahan yang memerlukan atmosfer inert.

Stainless steel cleanroom oven

Jenis oven ini sering digunakan untuk memenuhi syarat dan ketentuan dalam ISO 5 (Class 100)

Kami akan coba lengkapi pembahasa lebih mendetail untuk setiap jenis oven dilain waktu. Silakan juga baca artikel kami tentang shaker dan jenis-jenisnya. Kontak alatalatlab.com jika anda memerlukan alat-alat laboratorium berkualitas.

Jenis Jenis Oven Laboratorium Berdasarkan Tujuan Penggunaannya

Dikutip dari laman calipertech.com, ada beberapa jenis oven laboratorium seperti berikut ini:

Oven laboratorium dwifungsi (dual purpose oven)

Jenis oven ini dapat digunakan sebagai inkubator (incubator) atau pensteril (sterilizer) di laboratorium. Bahkan terkadang digunakan dengan berbagai penggunaan. Banyak laboratorium menggunakan oven jenis ini karena harga dan durabilitasnya.

Oven digital standar (Standard Digital Oven)

Jenis oven ini dikenal karena tingkat keakuratannya, aman dan kemudahan pengontrolannya. Oven ini dilengkapi dengan controller dan fan built in yang membuat oven menjadi tahan panas berlebihan.

Oven pengering (Drying Oven)

Jenis oven ini juga umum dikenal dengan nama moisture extraction oven yang digunakan untuk pengeringan cepat. Jenis oven ini berbeda dengan drying cabinet.

Heavy Duty Oven

Jenis oven ini dibuat dari bahan stainless steel dan dilengkapi dengan rak (layer atau shelve) yang mudah diatur. Temperatur jenis oven ini dapat mencapai suhu tinggi 250 – 300 derajat Celsius.

Drying Cabinet

Tidak seperti oven lainnya, jenis oven ini hanya dapat bekerja dengan suhu maksimum 60 derajat Celsius. Drying cabinet digunakan untuk mengeringkan peralatan gelas (glassware) atau apparatus dari plastik karena suhunya yang tidak terlalu tinggi. Jenniso ven ini cocok untuk menghilangkan kelembaban secara cepat.

Hot Box Oven

Jenis oven ini memiliki durabilitas yang terjamin. Bagian luar oven ini terbuat dari stainless steel. Jenis oven ini dilengkapi dengan safety thermostat dan temperature control system. Untuk penggunaan oven yang tidak memerlukan panas yang stabil dan suhu yang presisi,  jenis oven ini sangat direkomendasikan.

Perlu anda ketahui bahwa oven laboratorium berbeda dengan oven dapur dalam penggunaan dan harganya. Kami akan coba bahas bagian-bagian oven dan cara menggunakan oven laboratorium di lain kesempatan. Jika anda mencari oven laboratorium, silakan hubungi kami melalui kontak yang tertera melalui laman beranda web alatalatlab.com atau laman kontak. Kami siap melayani kebutuhan alat laboratorium anda.

Jenis Jenis Oven Laboratorium
5 (100%) 3 votes

Fungsi dan Cara Kerja Timbangan Digital

Fungsi dan cara kerja timbangan digital akan kami bahas secara sederhana disini. Fungsi timbangan digital adalah untuk mengukur massa benda secara elektronik. Cara kerja timbangan digital atau prinsip kerja timbangan digital itu seperti cara kerja pita kaset atau speaker. Pada speaker, gelombang suara pada microphone dikonversi menjadi sinyal listrik dengan gaya electromagnet, kemudian dikonversi lagi menjadi suara.  Berikut gambar ilustrasinya.

Fungsi dan Cara Kerja Timbangan Digital

Gambar Ilustrasi Fungsi dan Cara Kerja Timbangan Digital

Kami tetap menggunakan istilah bahasa Inggris dalam artikel fungsi dan cara kerja timbangan digital ini karena belum menemukan padanan katanya dalam bahasa Indonesia. Kami juga telah menyinggung tentang cara kerja timbangan digital ini pada artikel tentang bagian-bagian timbangan.

Fungsi dan Cara Kerja Timbangan Digital

Timbangan digital bekerja dengan cara mengukur regangan pada sel beban (strain gauge load cell). Timbangan digital mengkonversi gaya karena beban/massa (gaya beban) benda menjadi sinyal listrik. Komponen utama pada timbangan digital adalah strain gauge dan sensor load cell. Strain gauge adalah alat yang digunakan untuk mengukur regangan suatu obyek, sedangkan load cell sensor adalah alat elektronik yang berfungsi mengkonversi gaya (karena massa benda) menjadi sinyal listrik. Load cell disebut juga dengan force transducer. Berbeda dengan timbangan digital, neraca analog menggunakan pegas untuk menunjukkan massa suatu benda.

Tahap 1 – Gaya Beban pada Load Cell

Pada saat sebuah benda diletakkan di atas timbangan, bobot benda tersebut didistribusikan secara merata pada piringan. Anda mungkin menemukan empat penyangga di bagian bawah setiap sudut piringan yang mendistribusikan bobot secara merata. Gaya beban tersebut selanjutnya diarahkan pada salah satu bagian load cell. Pertambahan berat massa suatu benda akan mengakibatkan load cell akan melengkung ke bawah. Lihat ilustrasi gambar gaya yang bekerja pada load cel berikut ini

gaya beban pada load cell

Gambar ilustrasi gaya beban pada load cell

Tahap 2 – Deformasi Strain Gauge

Gaya beban tersebut akan mendeformasi strain gauge. Sebuah strain gauge terdiri dari jalur-jalur logam (metal tracks) atau foil, yang terhubung dengan papan sirkuit (backing). Pada saat metal foil tegang, maka backing akan melentur atau meregang. Berikut adalah gambar ilustrasi tentang deformasi strain gauge.
strain gauge timbangan digital
Gambar ilustrasi tentang deformasi strain gauge

Tahap 3 – Konversi Sinyal Listrik

Selanjutnya, strain gauge akan mengkonversi deformasi tersebut menjadi sinyal listrik. Load cell memiliki muatan listrik, akibat pergerakan, maka hambatan listrik (electrical resistance) akan mengalami perubahan. Perubahan kecil pada hambatan listrik akan menimbulkan sinyal listrik.  Sinyal listrik tersebut berjalan melalui converter analog menjadi digital selanjutnya melewati sebuah microchip yang menerjemahkan data. Hasil kalkulasi akhir adalah bilangan/angka yang menunjukkan bobot/massa benda ditampilkan pada layar LCD timbangan digital.

Semoga bahasan mengenai Fungsi dan cara kerja timbangan digital ini bermanfaat buat anda.

Rerensi:

https://www.hunker.com/12183358/how-does-a-digital-scale-work

Fungsi dan Cara Kerja Timbangan Digital
5 (100%) 3 votes

WhatsApp chat Hubungi kami via WA